Program Speling di Jawa Tengah Terbukti Efektif untuk Skrining Tuberkulosis
radarjawa.web.id Program Speling (Spesialis Keliling) yang dijalankan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus menunjukkan hasil positif, terutama dalam upaya skrining tuberkulosis (TB) di wilayah pedesaan. Program ini menjadi bentuk nyata pemerataan akses layanan kesehatan yang tidak hanya berfokus di perkotaan, tetapi juga menembus desa-desa terpencil.
Melalui Speling, tim dokter spesialis dari berbagai bidang turun langsung ke lapangan dengan membawa peralatan medis modern seperti portable x-ray. Alat ini memungkinkan pemeriksaan rontgen dilakukan secara cepat di lokasi, tanpa perlu masyarakat datang ke rumah sakit.
Hingga kini, program tersebut telah menjangkau 706 desa di seluruh Jawa Tengah. Ratusan ribu warga telah mendapat manfaat dari pemeriksaan kesehatan gratis, terutama dalam deteksi dini penyakit menular seperti tuberkulosis.
Pemeriksaan Langsung dan Efisiensi Waktu
Salah satu keunggulan utama program Speling adalah efisiensi waktu dan kemudahan akses bagi masyarakat. Dengan model jemput bola, dokter spesialis tidak hanya melakukan pemeriksaan umum, tetapi juga melaksanakan skrining TB aktif, yakni mencari penderita yang belum terdeteksi.
Masyarakat desa yang sebelumnya kesulitan menjangkau fasilitas kesehatan kini dapat melakukan pemeriksaan di lingkungan sendiri. Proses pemeriksaan dilakukan secara sistematis: mulai dari wawancara medis, pemeriksaan fisik, hingga pemeriksaan lanjutan menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM) untuk mendeteksi bakteri TB dari dahak pasien.
Program ini juga dipadukan dengan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG), yang memungkinkan masyarakat mengetahui kondisi tubuh secara menyeluruh, termasuk pemeriksaan gula darah, tekanan darah, hingga deteksi penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes.
Hasil Nyata dari Lapangan
Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Dari estimasi 107.488 kasus tuberkulosis, hingga kini telah ditemukan 73.028 kasus, atau sekitar 68 persen dari total perkiraan penderita. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya, di mana banyak kasus TB yang tidak terlaporkan karena keterbatasan akses layanan medis.
Secara keseluruhan, program Speling dan CKG telah memberikan layanan pemeriksaan kepada lebih dari 10 juta warga Jawa Tengah. Dari jumlah itu, sekitar 5,5 juta orang telah menjalani pemeriksaan khusus tuberkulosis. Pemeriksaan dilakukan melalui tes dahak berbasis TCM sebanyak 94.499 orang, dengan hasil:
- 86.573 orang negatif,
- 5.051 orang gagal pemeriksaan,
- 2.605 orang TB sensitif obat, dan
- 260 orang TB resisten obat.
Data ini menggambarkan bahwa pendekatan berbasis komunitas berhasil menurunkan angka keterlambatan diagnosis sekaligus mempercepat penanganan pasien TB di tingkat akar rumput.
Dukungan Pemerintah dan Sinergi Lintas Sektor
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menilai program Speling di Jawa Tengah sebagai model ideal pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Ia menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci sukses program ini.
“Speling ini luar biasa, karena masyarakat bisa langsung diperiksa dengan rontgen portable. Pendekatan seperti ini sangat efektif untuk menemukan kasus TB yang sebelumnya tersembunyi,” ujarnya dalam kunjungan kerja di Jawa Tengah.
Benjamin juga menyebut bahwa keberhasilan Speling sejalan dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dicanangkan pemerintah pusat. Menurutnya, jika model seperti ini diterapkan secara nasional, Indonesia akan mampu mempercepat pencapaian target eliminasi tuberkulosis pada 2030.
Sinergi Program TB Express dan Speling
Di tingkat provinsi, Gubernur Ahmad Luthfi menjelaskan bahwa Speling tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dengan program TB Express, sebuah inisiatif Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah yang berfokus pada penanganan cepat kasus tuberkulosis.
TB Express bekerja secara simultan dengan Speling dan CKG di seluruh kabupaten dan kota. Petugas lapangan tidak hanya memeriksa pasien, tetapi juga melakukan tracing (pelacakan kontak) terhadap anggota keluarga dan tetangga yang mungkin terpapar. Dengan cara ini, rantai penularan TB dapat diputus sejak dini.
Selain itu, kegiatan tersebut juga melibatkan puskesmas, rumah sakit daerah, serta organisasi kemasyarakatan. Pendekatan multi-sektor ini memastikan setiap kasus TB mendapat penanganan medis dan pendampingan psikologis.
Peran Teknologi dan Edukasi
Selain pemeriksaan medis, program Speling juga membawa misi edukasi. Masyarakat diberi pemahaman tentang cara mencegah penularan TB, pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, serta manfaat pemeriksaan dini.
Teknologi portable x-ray menjadi alat yang sangat membantu dalam skrining massal. Alat ini dapat digunakan di lapangan dengan hasil yang cepat dan akurat. Dengan hasil foto rontgen yang langsung dikirim ke sistem digital, dokter dapat menganalisis kondisi paru-paru pasien dalam waktu singkat.
Keberhasilan Speling tidak hanya diukur dari jumlah pasien yang diperiksa, tetapi juga dari meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan paru-paru dan pentingnya deteksi dini.
Penutup: Model Kesehatan untuk Indonesia
Artikel ini menegaskan bahwa program Speling bukan sekadar kegiatan medis, tetapi transformasi sistem pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Dengan menjangkau daerah-daerah terpencil, program ini membuktikan bahwa pemerataan layanan kesehatan dapat dicapai melalui inovasi dan kolaborasi lintas sektor.
Hasil positif di Jawa Tengah menjadi bukti bahwa pendekatan seperti ini layak diadopsi secara nasional. Di tengah tantangan penyakit menular yang masih tinggi, model jemput bola seperti Speling memberi harapan baru bagi upaya eliminasi tuberkulosis di Indonesia.
Dengan sinergi antara pemerintah pusat, daerah, tenaga medis, dan masyarakat, mimpi untuk Indonesia bebas TB bukanlah hal yang mustahil—dan Jawa Tengah telah menunjukkan langkah awal yang nyata menuju tujuan tersebut.

Cek Juga Artikel Dari Platform koronovirus.site
