Jawa dan Sumatra Masih Dominasi Kejadian Bencana Nasional
radarjawa.web.id Pulau Jawa dan Sumatra kembali tercatat sebagai wilayah dengan kejadian bencana tertinggi secara nasional. Sepanjang satu tahun terakhir, dua pulau besar ini masih menjadi episentrum berbagai bencana alam, mulai dari banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, hingga kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah tertentu.
Data ini disampaikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang menyoroti bahwa kepadatan penduduk, kondisi geografis, serta tekanan lingkungan menjadi faktor utama tingginya kejadian bencana di Jawa dan Sumatra. Meski demikian, BNPB juga menekankan bahwa wilayah lain yang sebelumnya relatif aman mulai menunjukkan peningkatan kerentanan.
Lima Provinsi Penyumbang Bencana Terbanyak
Kepala Pusat Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa terdapat lima provinsi dengan jumlah kejadian bencana tertinggi. Kelima provinsi tersebut adalah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Riau, dan Sumatra Utara.
Kelima provinsi ini secara konsisten menjadi wilayah dengan laporan bencana tertinggi. Di Pulau Jawa, bencana didominasi banjir dan longsor yang berkaitan erat dengan curah hujan tinggi, alih fungsi lahan, serta kepadatan kawasan permukiman. Sementara di Riau dan Sumatra Utara, kebakaran hutan, banjir, dan cuaca ekstrem masih menjadi ancaman utama.
Kabupaten dan Kota dengan Kontribusi Signifikan
Jika ditarik ke tingkat kabupaten dan kota, terdapat beberapa daerah yang menyumbang porsi besar dari total kejadian bencana nasional. Wilayah seperti Bogor, Kampar, Bima, Karawang, dan Siak tercatat menyumbang sekitar 30 hingga 40 persen kejadian bencana nasional.
Tingginya kontribusi dari daerah-daerah ini menunjukkan bahwa risiko bencana tidak hanya dipengaruhi oleh faktor alam, tetapi juga oleh pola pembangunan wilayah. Urbanisasi cepat, pembangunan di kawasan rawan, serta degradasi lingkungan menjadi variabel yang memperbesar dampak bencana.
Papua Mulai Disorot sebagai Wilayah Rentan Baru
Selain Jawa dan Sumatra, BNPB menyoroti meningkatnya kerentanan wilayah yang sebelumnya relatif aman, salah satunya Papua. Perubahan iklim, pembukaan lahan, serta dinamika cuaca ekstrem dinilai mulai memengaruhi wilayah timur Indonesia tersebut.
Papua sebelumnya dikenal memiliki tingkat kejadian bencana yang lebih rendah dibanding wilayah barat Indonesia. Namun, tren terbaru menunjukkan peningkatan kejadian seperti banjir bandang dan longsor di beberapa daerah. Hal ini menjadi sinyal peringatan bahwa mitigasi bencana perlu diperluas secara nasional, tidak hanya terfokus pada wilayah langganan bencana.
Faktor Penyebab Tingginya Bencana di Jawa dan Sumatra
BNPB mengidentifikasi beberapa faktor utama yang menyebabkan Jawa dan Sumatra terus mendominasi statistik bencana. Pertama adalah kepadatan penduduk yang tinggi, khususnya di Jawa, yang membuat dampak bencana terasa lebih luas. Kedua, perubahan tata guna lahan yang masif mengurangi daya dukung lingkungan.
Selain itu, kondisi geografis seperti wilayah perbukitan, aliran sungai besar, dan kawasan pesisir turut meningkatkan risiko. Kombinasi antara faktor alam dan aktivitas manusia ini menciptakan kerentanan struktural yang sulit dihindari tanpa kebijakan mitigasi yang kuat.
Upaya Mitigasi dan Kesiapsiagaan
BNPB menekankan pentingnya pergeseran pendekatan dari responsif ke preventif. Mitigasi bencana harus menjadi bagian dari perencanaan pembangunan daerah, termasuk penataan ruang, penguatan sistem peringatan dini, dan edukasi masyarakat.
Kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci dalam mengurangi dampak bencana. Daerah dengan tingkat kejadian tinggi diharapkan mampu membangun budaya sadar bencana, mulai dari simulasi evakuasi hingga penguatan komunitas siaga bencana di tingkat lokal.
Peran Pemerintah Daerah dan Masyarakat
Pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam menurunkan risiko bencana. Kebijakan pembangunan yang memperhatikan aspek lingkungan dan risiko bencana akan sangat menentukan. Di sisi lain, partisipasi masyarakat juga krusial, terutama dalam menjaga lingkungan dan mematuhi aturan tata ruang.
BNPB mendorong sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat untuk menghadapi tantangan bencana yang semakin kompleks. Tanpa kerja sama yang solid, angka kejadian bencana berpotensi terus meningkat.
Refleksi dan Tantangan ke Depan
Dominasi Jawa dan Sumatra sebagai wilayah dengan bencana tertinggi menjadi refleksi penting bagi arah pembangunan nasional. Tantangan ke depan bukan hanya menurunkan jumlah kejadian, tetapi juga meminimalkan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan dari setiap bencana.
Dengan perubahan iklim yang semakin nyata, pola bencana diperkirakan akan semakin sulit diprediksi. Oleh karena itu, pendekatan adaptif dan berbasis data menjadi kebutuhan mendesak.
Kesimpulan
Sepanjang satu tahun terakhir, Jawa dan Sumatra masih menjadi wilayah dengan kejadian bencana tertinggi di Indonesia. Lima provinsi dan sejumlah kabupaten menyumbang porsi besar dari total kejadian nasional, sementara wilayah seperti Papua mulai menunjukkan peningkatan kerentanan.
Temuan ini menegaskan bahwa penanggulangan bencana tidak bisa dilakukan secara parsial. Mitigasi yang kuat, pembangunan berkelanjutan, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama agar risiko bencana dapat ditekan dan dampaknya diminimalkan di masa mendatang.

Cek Juga Artikel Dari Platform dapurkuliner.com
