Program MBG di Jawa Tengah Sasar 6,3 Juta Penerima Manfaat, Gibran dan Luthfi Tinjau Langsung
radarjawa.web.id Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Tengah terus berjalan masif dan menjadi salah satu agenda strategis pemerintah untuk memperkuat ketahanan gizi nasional. Gubernur Ahmad Luthfi mendampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau langsung pelaksanaannya di salah satu sekolah di Kota Salatiga.
Peninjauan dilakukan di SMP Negeri 9 Salatiga. Di sekolah tersebut, sebanyak 749 siswa telah menjadi penerima manfaat dari program ini. Dalam kunjungan itu, Gibran dan Luthfi menyapa para siswa, melihat proses distribusi makanan, dan memeriksa dapur penyedia menu MBG.
Beberapa siswa tampak antusias berbincang dengan keduanya. Salma, siswi kelas VIII, mengaku senang dengan adanya program ini. “Menunya lengkap dan sehat, ada sayur, buah, dan lauknya bergizi,” ujarnya sambil tersenyum.
Fokus Pemerintah: Pengawasan Gizi dan Kualitas Pangan
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Luthfi menegaskan pentingnya pengawasan bahan pangan yang digunakan dalam program MBG. Menurutnya, kualitas gizi dan keamanan makanan harus menjadi prioritas agar manfaatnya benar-benar dirasakan penerima.
“Bapak Wakil Presiden melakukan pengecekan untuk memastikan program ini berjalan tepat sasaran, baik dari segi kandungan gizi, ketepatan waktu distribusi, maupun kepuasan siswa,” kata Luthfi.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari jumlah penerima, tetapi juga dari seberapa baik kualitas makanan yang diberikan. Pemerintah daerah, katanya, wajib menjaga rantai pasokan agar bahan pangan yang digunakan selalu segar dan sesuai standar kesehatan.
Menjangkau Lebih dari Enam Juta Penerima
Berdasarkan data terbaru, pelaksanaan program MBG di Jawa Tengah telah menjangkau 6.308.163 penerima manfaat, atau sekitar 65,44 persen dari total target 9,6 juta penerima. Dari angka tersebut, lebih dari enam juta merupakan siswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai TK hingga SMK serta pondok pesantren.
Selain itu, program juga menyasar kelompok rentan seperti ibu hamil sebanyak 20.536 orang, ibu menyusui 43.579 orang, dan balita 122.306 anak. Angka tersebut menunjukkan skala besar program MBG yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat.
Gubernur Luthfi menegaskan, pemerintah provinsi terus berupaya memperluas cakupan hingga seluruh penerima di target tahun berjalan bisa terpenuhi. “Kami ingin memastikan tidak ada kelompok yang tertinggal, terutama anak-anak dan ibu hamil,” jelasnya.
Pembangunan Sentra Penyedia Pangan Gizi (SPPG)
Untuk mendukung kelancaran distribusi, Jawa Tengah telah membangun ribuan Sentra Penyedia Pangan Gizi (SPPG). Total direncanakan sebanyak 3.228 titik akan dibangun di seluruh wilayah provinsi. Hingga kini, 2.267 titik telah terealisasi, atau sekitar 70,22 persen dari target.
Dari jumlah tersebut, sebagian besar dikelola oleh mitra penyedia lokal sebanyak 2.215 titik, sementara sisanya melibatkan institusi seperti Polri, TNI, pondok pesantren, BUMD, dan pemerintah daerah. Di Kota Salatiga sendiri, telah beroperasi 12 dari target 22 titik SPPG.
Selain membangun infrastruktur penyediaan pangan, Pemprov Jateng juga melakukan pemantauan ketat terhadap suplai bahan makanan. Dinas Ketahanan Pangan aktif melakukan inspeksi ke lapangan untuk memastikan standar kebersihan dan gizi terpenuhi.
Edukasi dan Pengawasan Ketat
Selain fokus pada distribusi, program MBG juga disertai kegiatan edukatif. Pemerintah gencar mengkampanyekan pola makan B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman) kepada pelajar dan orang tua. Program ini disertai ajakan “Stop Boros Pangan” untuk menumbuhkan kesadaran terhadap konsumsi bijak.
Sebagai bentuk komitmen, Pemprov membentuk Satgas Percepatan Program MBG yang bertugas mengawasi implementasi di daerah. Hingga kini, 15 kabupaten/kota sudah memiliki Satgas aktif, di antaranya Cilacap, Purworejo, Banjarnegara, Magelang, Klaten, Tegal, Demak, Kudus, Rembang, dan Kota Semarang.
Selain itu, pemprov juga memanfaatkan aset lahan pemerintah sebanyak 134 titik untuk kegiatan MBG melalui mekanisme pinjam pakai. Langkah ini membantu memperluas fasilitas penyimpanan dan distribusi bahan makanan di wilayah terpencil.
Standar Kesehatan dan Sertifikasi
Untuk menjamin kebersihan dan keamanan makanan, 323 titik SPPG di Jawa Tengah telah memperoleh Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Sertifikasi ini memastikan setiap dapur memenuhi standar kebersihan lingkungan, pemeriksaan laboratorium berkala, dan pelatihan petugas penjamah makanan.
Luthfi menegaskan bahwa seluruh pelaksana MBG di provinsi ini wajib memiliki Sertifikasi Laik Higiene Kesehatan (SLHK). Pelatihan tersebut diberikan oleh dinas kesehatan masing-masing daerah agar kualitas makanan tetap terjaga.
“Sertifikasi ini penting untuk memastikan petugas gizi dan tenaga penyaji memahami standar kebersihan dan pengolahan yang aman. Kami ingin mencegah terjadinya insiden yang dapat merugikan penerima manfaat,” tegasnya.
Harapan ke Depan
Program MBG di Jawa Tengah menunjukkan komitmen nyata pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama generasi muda. Selain memperkuat ketahanan pangan, program ini juga mendorong pemberdayaan ekonomi lokal melalui keterlibatan mitra usaha mikro di bidang katering dan bahan pangan.
Wapres Gibran menyampaikan apresiasinya terhadap kerja keras pemerintah daerah. Ia berharap MBG menjadi contoh keberhasilan bagi provinsi lain dalam menerapkan program gizi berkelanjutan.
Dengan kerja sama lintas sektor dan pengawasan yang ketat, Jawa Tengah optimistis dapat mencapai target penuh. Program MBG bukan hanya soal makan gratis, tetapi juga tentang investasi jangka panjang untuk masa depan anak-anak Indonesia yang lebih sehat dan produktif.

Cek Juga Artikel Dari Platform kalbarnews.web.id
