Pelajar Batang Gelar Javanese Festival Lestarikan Budaya
radarjawa.web.id Upaya pelestarian budaya Jawa terus dilakukan melalui jalur pendidikan. Salah satunya ditunjukkan oleh ratusan pelajar SMA Negeri 2 Batang yang menampilkan kreativitas dan bakat seni mereka dalam ajang tahunan bertajuk Smanda Javanese Festival. Kegiatan ini menjadi ruang ekspresi bagi generasi muda untuk mengenal, memahami, dan mencintai warisan budaya leluhur di tengah derasnya arus modernisasi.
Festival budaya tersebut tidak sekadar menjadi pertunjukan seni, tetapi juga dirancang sebagai bagian dari proses pembelajaran. Melalui pementasan seni tari, drama, musik, hingga sendratari, para pelajar diajak mempraktikkan langsung materi pelajaran bahasa Jawa, prakarya dan kewirausahaan, serta seni budaya. Dengan pendekatan ini, nilai-nilai budaya tidak hanya dipelajari secara teori, tetapi dihidupkan dalam bentuk karya nyata.
Javanese Festival sebagai Media Pendidikan Budaya
Smanda Javanese Festival diikuti oleh ratusan pelajar kelas XII yang menampilkan berbagai pertunjukan bertema budaya Jawa. Setiap kelas menampilkan konsep berbeda, mulai dari tari tradisional, sendratasik, monolog, hingga drama kolosal yang sarat pesan moral. Keragaman penampilan ini mencerminkan kekayaan budaya Jawa yang luas dan berlapis.
Kepala sekolah Yulianto Nurul Furqon menegaskan bahwa festival ini sengaja dirancang untuk memberi ruang seluas-luasnya bagi peserta didik mengekspresikan bakat seni. Ia menilai, seni budaya merupakan sarana efektif untuk membangun karakter dan identitas generasi muda agar tidak tercerabut dari akar budayanya.
Benteng Budaya di Tengah Arus Teknologi
Kemajuan teknologi informasi, termasuk kecerdasan buatan, dinilai membawa tantangan tersendiri bagi pelestarian budaya tradisional. Anak muda semakin akrab dengan budaya global yang serba cepat dan instan, sementara seni tradisi perlahan terpinggirkan. Melalui festival ini, pihak sekolah berupaya membangun “benteng budaya” agar pelajar tetap memiliki pijakan nilai yang kuat.
Menurut Yulianto, pelestarian budaya harus dimulai sejak dini. Ia menekankan pentingnya memberikan pemahaman bahwa budaya Jawa bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas yang membentuk cara berpikir dan bersikap dalam kehidupan bermasyarakat. Filosofi Jawa yang mengajarkan kesantunan, gotong royong, dan keseimbangan hidup dinilai relevan hingga kini.
Ragam Pementasan yang Sarat Kearifan Lokal
Berbagai pementasan yang ditampilkan dalam festival ini menggambarkan kekayaan kearifan lokal Jawa. Mulai dari tarian yang mengangkat nilai harmoni dengan alam, drama yang mengisahkan perjalanan hidup manusia, hingga ikon-ikon budaya yang merepresentasikan kehidupan masyarakat Jawa. Semua dikemas dengan pendekatan kreatif yang dekat dengan dunia remaja.
Selain seni pertunjukan, festival ini juga menjadi ajang kreativitas dalam bidang prakarya. Para pelajar menampilkan kostum dan properti yang dirancang sendiri, sebagian besar menggunakan bahan daur ulang. Pendekatan ini tidak hanya menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga mengasah jiwa kewirausahaan dan inovasi peserta didik.
Apresiasi Pemerintah Daerah
Kegiatan ini mendapat apresiasi dari Suyono, Wakil Bupati Batang, yang hadir menyaksikan langsung pertunjukan. Ia mengaku terpukau dengan kreativitas para pelajar, terutama saat penampilan flashmob tari Nusantara yang memadukan unsur tradisi dengan konsep modern.
Menurutnya, kegiatan seni seperti ini sangat penting untuk menumbuhkan karakter anak yang mencintai budaya lokal dan memiliki kepekaan sosial. Ia juga menilai festival budaya dapat menjadi sarana pendidikan karakter yang efektif, karena mengajarkan kerja sama, disiplin, dan empati melalui proses berkesenian.
Pesan Kewaspadaan terhadap Kecerdasan Buatan
Dalam kesempatan tersebut, Suyono juga menyampaikan pesan kepada para pelajar agar bersikap bijak dalam menyikapi perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Ia menegaskan bahwa teknologi tidak perlu ditakuti, namun harus dihadapi dengan kewaspadaan dan pemahaman yang baik. Seni dan budaya, menurutnya, dapat menjadi sarana untuk melatih kepekaan sosial yang tidak bisa digantikan oleh teknologi.
Melalui kegiatan seni, pelajar belajar memahami emosi, nilai, dan karakter manusia. Hal ini menjadi bekal penting agar generasi muda mampu memanfaatkan teknologi secara bijak tanpa kehilangan jati diri sebagai bagian dari masyarakat berbudaya.
Kreativitas Kostum Bertema Kliwonan
Salah satu penampilan yang menarik perhatian adalah kostum bertema Kliwonan yang dikenakan oleh siswi kelas X, Nadi Pertiwi. Kostum tersebut dibuat dari bahan daur ulang seperti plastik dan styrofoam bekas, yang dirangkai menjadi ornamen miniatur candi dan makanan tradisional.
Ia mengungkapkan kebanggaannya dapat menjadi bagian dari festival budaya ini. Proses pembuatan kostum yang memakan waktu cukup lama justru menjadi pengalaman berharga, karena mengajarkan ketekunan, kerja sama, dan kecintaan terhadap budaya lokal. Detail ornamen seperti klepon dan getuk dipilih sebagai simbol kearifan lokal yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Menjaga Warisan Budaya untuk Generasi Mendatang
Smanda Javanese Festival menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pendidikan modern. Melalui pendekatan kreatif dan partisipatif, pelajar tidak hanya menjadi penonton budaya, tetapi juga pelaku yang aktif menghidupkannya. Kegiatan ini diharapkan mampu menanamkan rasa bangga terhadap budaya Jawa sekaligus membekali generasi muda dengan karakter yang kuat.
Ke depan, sinergi antara sekolah, pemerintah daerah, dan masyarakat dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan kegiatan serupa. Dengan demikian, budaya Jawa tidak hanya lestari sebagai warisan, tetapi terus berkembang dan relevan di tengah perubahan zaman.

Cek Juga Artikel Dari Platform outfit.web.id
