Kolaborasi Kuat Dongkrak Pembangunan Jateng
radarjawa.web.id Satu tahun kepemimpinan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen menandai fase konsolidasi pembangunan berbasis kolaborasi. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menekankan bahwa keberhasilan tidak lahir dari kerja satu figur, melainkan dari orkestrasi banyak pihak—kabupaten/kota, perguruan tinggi, pelaku usaha, hingga komunitas.
Dalam forum Anugerah Collaborative Award di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, gubernur menegaskan filosofi “super team” sebagai fondasi pembangunan. Dengan 35 kabupaten/kota dan kompleksitas isu yang beragam, pendekatan collaborative government dinilai sebagai satu-satunya cara untuk mempercepat capaian dan menjaga keberlanjutan program.
Penghargaan untuk Daerah dan Kampus Terbaik
Sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi nyata, pemerintah provinsi memberikan penghargaan kepada kabupaten/kota dan perguruan tinggi yang dinilai unggul dalam kolaborasi. Untuk kategori daerah terbaik, apresiasi diberikan kepada Kabupaten Banyumas, Kota Surakarta, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Pemalang, Kota Magelang, dan Kabupaten Magelang.
Di kategori perguruan tinggi, penghargaan diraih oleh Universitas Sebelas Maret, Universitas Diponegoro, Universitas Muria Kudus, UIN Walisongo, Universitas Wahid Hasyim, dan Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Kampus-kampus tersebut dinilai aktif menyumbangkan ide, riset terapan, hingga pendampingan program berbasis data untuk kesejahteraan masyarakat.
Jejaring Kerja Sama yang Meluas
Selama setahun terakhir, Pemprov Jawa Tengah menjalin kerja sama dengan 44 perguruan tinggi. Dalam momentum penghargaan, sebanyak 73 kampus juga menandatangani nota kesepahaman (MoU). Bahkan, sekitar 123 perguruan tinggi lainnya menyatakan kesiapan untuk terlibat dalam program kolaboratif berikutnya.
Sinergi ini tidak berhenti pada seremoni. Kolaborasi difokuskan pada solusi konkret: peningkatan produktivitas pertanian, hilirisasi industri, penguatan UMKM, pengentasan kemiskinan, dan transformasi layanan publik berbasis digital. Pemerintah provinsi memosisikan kampus sebagai mitra strategis—penyedia riset, inovasi, serta rekomendasi kebijakan berbasis evidensi.
Capaian Makro: Tumbuh di Atas Nasional
Pendekatan kolaboratif tersebut diklaim berkontribusi pada capaian makro yang positif. Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tercatat 5,37%, melampaui rata-rata nasional. Angka kemiskinan turun menjadi 9,39%, sementara tingkat pengangguran terbuka berada di kisaran 4,66%. Data ini menunjukkan adanya perbaikan kualitas ekonomi yang relatif merata.
Jumlah penduduk miskin juga berkurang secara bertahap. Periode terakhir mencatat 3,34 juta jiwa—turun puluhan ribu dibanding periode sebelumnya dan lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Penurunan ini menjadi indikator bahwa program perlindungan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan penciptaan kerja mulai menunjukkan dampak.
Lumbung Pangan dan Produktivitas Padi
Sebagai lumbung pangan nasional, Jawa Tengah mencatat produktivitas padi sekitar 9,5 juta ton. Kolaborasi dengan perguruan tinggi dan pemerintah daerah berperan dalam adopsi teknologi pertanian, perbaikan tata kelola irigasi, serta distribusi pupuk dan benih unggul. Pendekatan berbasis data membantu menentukan intervensi yang tepat di sentra produksi.
Penguatan sektor pertanian juga dikaitkan dengan stabilitas harga dan ketahanan pangan daerah. Pemerintah provinsi mendorong integrasi hulu-hilir agar petani memperoleh nilai tambah lebih besar, termasuk akses pasar dan pembiayaan.
Investasi Tertinggi dalam Satu Dekade
Dari sisi investasi, realisasi mencapai Rp88,50 triliun—tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Angka tersebut terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) Rp50,86 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Rp37,64 triliun. Sebanyak 105.078 proyek terealisasi dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 418.138 orang.
Strategi investasi menitikberatkan pada sektor padat karya untuk mereduksi pengangguran, tanpa mengesampingkan proyek padat modal yang menopang industrialisasi. Pemerintah provinsi juga mengajak kabupaten/kota memberikan insentif, termasuk relaksasi pajak bagi investor yang mengedepankan prinsip ekonomi hijau.
Arah Kebijakan: Kolaborasi yang Terukur
Gubernur menegaskan bahwa pembangunan bukan kerja individual. Konsep super team diwujudkan melalui koordinasi lintas sektor dan target yang terukur. Pemerintah provinsi memprioritaskan tata kelola yang transparan, pemanfaatan data, serta evaluasi berkala untuk memastikan program tepat sasaran.
Kolaborasi dengan dunia usaha, komunitas, dan kampus diharapkan terus diperluas. Dengan basis riset yang kuat dan dukungan investasi berkelanjutan, Jawa Tengah menargetkan pertumbuhan inklusif—di mana manfaat ekonomi dirasakan hingga lapisan terbawah.
Setahun perjalanan ini menjadi fondasi untuk langkah berikutnya. Pesan yang ingin ditegaskan sederhana namun strategis: pembangunan yang kuat lahir dari kerja bersama. Di tengah tantangan global, model kolaboratif menjadi kunci menjaga momentum dan memastikan Jawa Tengah terus bergerak maju secara berkelanjutan.

Cek Juga Artikel Dari Platform jelajahhijau.com
