Gunung Baru Muncul di Jawa, Ahli Geologi Ungkap Fenomena Langka dan Asal-Usulnya
radarjawa.web.id Fenomena langka terjadi di wilayah Grobogan, Jawa Tengah. Sebuah gundukan tanah besar muncul secara tiba-tiba dan mengeluarkan semburan lumpur dari dalam bumi. Warga setempat menyebutnya sebagai “gunung baru” karena bentuknya menyerupai miniatur gunung berapi aktif.
Peristiwa ini segera menarik perhatian publik. Video dan foto-foto fenomena tersebut viral di media sosial. Banyak warga mengira bahwa gunung berapi baru tengah terbentuk di Pulau Jawa. Namun, sejumlah ahli geologi segera turun ke lokasi untuk memastikan penyebab sebenarnya.
Ahli menegaskan bahwa fenomena itu bukanlah tanda munculnya gunung api baru. Gundukan yang tampak seperti letusan kecil tersebut adalah hasil dari tekanan fluida bawah tanah yang mendorong material lumpur ke permukaan.
Bukan Gunung Berapi, Melainkan Mud Volcano
Penjelasan ilmiah datang dari para pakar geologi yang meneliti langsung fenomena di Grobogan. Mereka menyebut kejadian itu sebagai mud volcano atau gunung lumpur. Fenomena ini sering terjadi di wilayah dengan tekanan geotektonik tinggi, terutama di sekitar patahan aktif.
“Yang muncul di Grobogan bukan gunung api magmatik, tapi gunung lumpur. Prosesnya murni karena tekanan gas dan cairan dari lapisan dalam tanah,” jelas seorang ahli geologi dari Universitas Gadjah Mada.
Ia menambahkan bahwa gas dan air bawah tanah yang terperangkap dalam lapisan lempung dapat keluar ke permukaan jika terjadi guncangan atau pergeseran lempeng bumi. Akibatnya, material lumpur terdorong naik dan membentuk gundukan menyerupai gunung kecil.
Kaitan dengan Aktivitas Seismik di Jawa Tengah
Fenomena kemunculan gunung lumpur tersebut diduga memiliki hubungan erat dengan gempa bumi berkekuatan 6,5 magnitudo yang sebelumnya mengguncang kawasan Jawa Tengah. Gempa itu memicu rekahan pada lapisan tanah di beberapa titik, termasuk wilayah Grobogan.
Getaran kuat dari gempa membuat tekanan di bawah permukaan meningkat. Akibatnya, campuran gas, air, dan lumpur keluar melalui celah baru di permukaan tanah. Inilah yang menyebabkan munculnya semburan mirip letusan kecil yang disangka aktivitas vulkanik.
Ahli menegaskan bahwa kondisi ini tidak berbahaya selama tidak terjadi tekanan ekstrem. Namun, masyarakat diminta tetap waspada terhadap perubahan di sekitar lokasi, seperti bau gas menyengat atau semburan panas yang bisa menandakan tekanan meningkat.
Reaksi dan Rasa Takjub Warga Sekitar
Bagi warga Grobogan, peristiwa ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Banyak yang menganggapnya pertanda alam atau fenomena mistis. Namun setelah penjelasan dari pihak geologi dan pemerintah, masyarakat mulai memahami bahwa kejadian ini murni fenomena ilmiah.
“Awalnya kami panik. Tanah seperti meledak dan keluar lumpur panas,” ujar seorang warga yang tinggal tak jauh dari lokasi. Setelah beberapa hari, aktivitas semburan mulai mereda dan gundukan lumpur tersebut membentuk bukit kecil setinggi sekitar dua meter.
Fenomena ini juga menarik minat masyarakat sekitar yang datang untuk melihat langsung. Beberapa bahkan menjadikan lokasi tersebut sebagai objek wisata dadakan karena penasaran dengan “gunung baru” yang muncul begitu cepat.
Penelitian Lanjutan dari Ahli Geologi
Tim peneliti dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bersama universitas setempat melakukan penelitian intensif terhadap lokasi kejadian. Hasil sementara menunjukkan bahwa material lumpur yang keluar mengandung mineral lempung, pasir halus, dan gas metana.
Temuan gas metana ini memperkuat dugaan bahwa fenomena tersebut berasal dari tekanan hidrotermal dan bukan aktivitas magmatik. “Secara geokimia, kandungan materialnya berbeda jauh dengan gunung berapi. Tidak ada sulfur, magma, atau batuan vulkanik,” jelas peneliti PVMBG.
Tim juga memasang alat pemantau untuk mengukur tekanan bawah tanah dan potensi pergerakan tanah di sekitar area itu. Tujuannya untuk memastikan bahwa fenomena serupa tidak menimbulkan risiko bagi permukiman warga.
Jejak Fenomena Serupa di Indonesia
Fenomena gunung lumpur seperti ini bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Salah satu kasus paling terkenal adalah gunung lumpur Sidoarjo (Lumpur Lapindo) di Jawa Timur, yang muncul lebih dari satu dekade lalu dan terus aktif hingga kini.
Namun, skala kejadian di Grobogan jauh lebih kecil dan tidak menimbulkan kerusakan. Para ahli memperkirakan aktivitasnya bersifat sementara dan akan berhenti setelah tekanan di bawah tanah kembali stabil.
Di berbagai daerah lain seperti Blora, Bojonegoro, dan Purwodadi, fenomena sejenis juga pernah tercatat meski intensitasnya lebih lemah. Ini menunjukkan bahwa Pulau Jawa memiliki struktur geologi kompleks dengan banyak kantong gas dan air bawah tanah yang dapat aktif sewaktu-waktu.
Pelajaran Penting dari Fenomena Alam Ini
Kejadian di Grobogan memberi pelajaran penting bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Pertama, pentingnya edukasi publik tentang perbedaan antara gunung berapi dan gunung lumpur. Kedua, perlunya sistem pemantauan geotektonik yang lebih luas agar setiap perubahan tanah bisa dideteksi lebih awal.
Ahli geologi juga mengingatkan bahwa fenomena alam seperti ini bukanlah hal menakutkan. Sebaliknya, ia bisa menjadi laboratorium alami untuk memahami proses dinamika bumi dan potensi energi geotermal di Indonesia.
“Fenomena seperti ini justru memperlihatkan betapa aktifnya bumi kita. Jika dikelola dengan bijak, kita bisa mendapatkan banyak pengetahuan dan manfaat dari proses alam ini,” ujar peneliti tersebut.
Kesimpulan: Bumi Jawa yang Terus Bergerak
Kemunculan “gunung baru” di Grobogan bukan tanda bahaya, melainkan bagian dari aktivitas geologi alami di Pulau Jawa. Proses tekanan bawah tanah yang kuat menghasilkan semburan lumpur yang kemudian membentuk gundukan menyerupai gunung kecil.
Dengan pemahaman ilmiah dan kesadaran masyarakat, fenomena seperti ini bisa direspons dengan bijak tanpa kepanikan.
Kejadian di Grobogan menjadi bukti bahwa bumi Indonesia masih sangat aktif, dinamis, dan menyimpan banyak misteri yang terus menunggu untuk dipelajari.

Cek Juga Artikel Dari Platform rumahjurnal.online
