10 Provinsi Jadi Raja Ekonomi Indonesia, Dominasi Non-Jawa Semakin Menguat
radarjawa.web.id Ekonomi Indonesia kembali menunjukkan performa solid dengan capaian Produk Domestik Bruto (PDB) triwulan III yang mencapai Rp6.060 triliun atas dasar harga berlaku dan Rp3.444,8 triliun atas dasar harga konstan 2010. Pertumbuhan ini menunjukkan peningkatan sebesar 5,04 persen secara tahunan, menandakan bahwa fundamental ekonomi nasional tetap kuat meskipun menghadapi tekanan global dan gejolak harga komoditas dunia.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS), Edy Mahmud, menjelaskan bahwa capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia berjalan stabil di tengah situasi global yang tidak pasti.
Peta Ekonomi Nasional: Dominasi Non-Jawa
Secara spasial, perekonomian nasional menunjukkan pemerataan yang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hampir seluruh provinsi mencatat pertumbuhan positif, kecuali Papua Barat dan Papua Tengah yang mengalami kontraksi masing-masing sebesar 0,13 persen dan 16,11 persen.
Yang menarik, kontribusi wilayah luar Pulau Jawa terhadap PDB nasional semakin besar. Jika sebelumnya dominasi ekonomi selalu berada di tangan provinsi-provinsi di Jawa, kini daerah seperti Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi mulai menunjukkan taringnya.
Menurut BPS, struktur ekonomi Indonesia kini ditopang oleh sepuluh provinsi utama yang menjadi “raja ekonomi” nasional. Provinsi-provinsi tersebut menyumbang lebih dari 70 persen terhadap total PDB nasional.
Jawa Barat Masih Memimpin, Tapi Kaltim dan Riau Menyalip
Meski Pulau Jawa tetap menjadi episentrum ekonomi nasional, beberapa provinsi di luar Jawa berhasil menyalip dalam hal kontribusi sektor tertentu. Jawa Barat masih menjadi kontributor terbesar PDB nasional dengan peran industri manufaktur, perdagangan, dan pariwisata. Kota-kota besar seperti Bandung dan Bekasi menjadi pusat pertumbuhan sektor industri dan teknologi.
Namun, posisi dominan Jawa Barat kini mulai dikejar oleh Kalimantan Timur dan Riau. Kedua provinsi ini mengalami lonjakan PDB signifikan karena peran besar sektor pertambangan dan energi. Kalimantan Timur misalnya, menjadi pusat eksplorasi migas dan batu bara terbesar di Indonesia sekaligus calon lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN) yang terus mendorong investasi infrastruktur.
Sementara itu, Provinsi Riau mendapatkan keuntungan dari ekspor minyak kelapa sawit, industri kimia, serta pengembangan kawasan industri hijau di Dumai dan Pekanbaru.
Pulau Sumatera Melesat dengan Industri dan Energi
Selain Riau, beberapa provinsi lain di Sumatera turut menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi. Sumatera Utara mencatat pertumbuhan stabil berkat ekspansi sektor perkebunan dan industri pengolahan. Kota Medan dan sekitarnya kini berkembang menjadi pusat ekonomi regional yang menghubungkan perdagangan antara Aceh, Sumatera Barat, dan Riau.
Sumatera Selatan juga memperlihatkan kinerja impresif, terutama karena kontribusi energi dan batu bara. Sementara Lampung menguat di sektor pertanian dan industri pengolahan hasil bumi.
Pergeseran kekuatan ekonomi ini menandai perubahan pola pembangunan nasional. Pemerataan investasi dan pembangunan infrastruktur mulai menunjukkan hasil, terutama dengan dukungan proyek jalan tol trans-Sumatera dan pengembangan pelabuhan strategis.
Sulawesi dan Kalimantan: Pusat Baru Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi di Sulawesi menjadi kejutan lain. Provinsi seperti Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara kini masuk jajaran daerah dengan pertumbuhan tertinggi, terutama karena lonjakan industri nikel dan smelter.
Pemerintah mencatat bahwa investasi di sektor pengolahan mineral memberikan multiplier effect besar bagi lapangan kerja dan infrastruktur. Sektor ini juga mendukung agenda transisi energi dengan menghasilkan bahan baku untuk baterai kendaraan listrik.
Sementara itu, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Utara mencatat peningkatan tajam di sektor energi dan konstruksi. Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur turut memperkuat posisi wilayah ini sebagai pusat ekonomi baru di luar Pulau Jawa.
Pulau Jawa Masih Kuat, Tapi Peran Mulai Tersebar
Meski dominasi ekonomi mulai beralih ke luar Jawa, Pulau Jawa masih menjadi pusat pergerakan ekonomi nasional. DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur tetap mendominasi aktivitas industri, perdagangan, serta jasa keuangan.
Namun, peran setiap provinsi kini lebih seimbang. Jakarta semakin fokus pada sektor jasa dan keuangan, sementara Jawa Tengah berkembang pesat di industri manufaktur ringan dan logistik. Jawa Timur terus memimpin di sektor perdagangan antarwilayah dan ekspor produk olahan.
Dengan diversifikasi sektor ekonomi ini, pemerintah optimis pertumbuhan nasional akan semakin inklusif.
Pemerataan Ekonomi Jadi Agenda Nasional
Pemerintah melalui Kementerian PPN/Bappenas menegaskan bahwa arah pembangunan ekonomi ke depan akan berfokus pada pemerataan pertumbuhan antarwilayah. Dengan potensi sumber daya alam yang besar di luar Jawa, diharapkan kontribusi daerah lain dapat terus meningkat tanpa harus menunggu stimulus dari pusat.
Kebijakan hilirisasi industri dan investasi infrastruktur terpadu menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan. Selain itu, dukungan terhadap digitalisasi ekonomi di daerah juga dipandang sebagai strategi penting untuk menciptakan lapangan kerja baru dan memperkuat daya saing global.
Menuju Struktur Ekonomi yang Lebih Merata
Capaian pertumbuhan ekonomi 5,04 persen menunjukkan bahwa mesin ekonomi Indonesia masih tangguh. Namun, tantangan terbesar ke depan adalah memastikan agar pertumbuhan ini tidak terkonsentrasi hanya di satu wilayah.
Dominasi provinsi luar Jawa menandakan transformasi ekonomi yang mulai berjalan. Dengan penguatan konektivitas antarwilayah, hilirisasi industri, serta digitalisasi UMKM, Indonesia berpeluang menciptakan struktur ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan.
Pertumbuhan ekonomi bukan sekadar angka, tetapi juga refleksi dari bagaimana seluruh daerah dapat berkontribusi secara merata. Jika tren positif ini berlanjut, bukan tidak mungkin Indo

Cek Juga Artikel Dari Platform indosiar.site
