Ekonomi DIY Tumbuh 5,40 Persen, Tertinggi di Pulau Jawa
radarjawa.web.id Pertumbuhan ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus menunjukkan performa gemilang. Berdasarkan laporan terbaru Bank Indonesia (BI), ekonomi DIY pada triwulan III tahun ini tumbuh 5,40 persen secara tahunan (year-on-year). Meskipun sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 5,49 persen, capaian ini tetap menjadi yang tertinggi di Pulau Jawa dan melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,04 persen.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY, Sri Darmadi Sudibyo, menyampaikan bahwa laju ekonomi DIY akan tetap positif hingga akhir tahun. BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi daerah ini berada di kisaran 4,8 hingga 5,6 persen, sejalan dengan optimisme pemulihan sektor riil, konsumsi masyarakat, dan peningkatan aktivitas pariwisata.
Pariwisata Jadi Mesin Utama Pertumbuhan
Salah satu faktor pendorong utama pertumbuhan ekonomi DIY adalah kinerja sektor pariwisata yang terus membaik. Sejak pembatasan sosial berakhir, jumlah wisatawan domestik dan mancanegara meningkat signifikan. Data Dinas Pariwisata menunjukkan kunjungan wisatawan melonjak hingga puluhan persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kawasan Malioboro, Taman Sari, Prambanan, dan kawasan Gunungkidul menjadi magnet utama wisatawan. Tak hanya sektor akomodasi dan transportasi, geliat wisata juga memberi dampak langsung terhadap sektor kuliner, ekonomi kreatif, serta industri kecil dan menengah (IKM).
Menurut Sri Darmadi, keberhasilan DIY menjaga momentum pemulihan sektor pariwisata tidak terlepas dari kolaborasi pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat lokal. “Pariwisata menjadi tulang punggung ekonomi Yogyakarta. Ketika sektor ini pulih, efeknya terasa hingga ke pedesaan,” ujarnya.
Sektor Pendidikan dan Konsumsi Rumah Tangga
Selain pariwisata, sektor pendidikan juga memainkan peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi DIY. Sebagai kota pelajar, Yogyakarta menampung ratusan ribu mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Aktivitas pendidikan ini mendorong tingginya konsumsi rumah tangga di bidang perumahan, makanan, transportasi, dan jasa.
Berdasarkan analisis BI, kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDRB DIY mencapai lebih dari 60 persen. Angka ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat masih kuat meskipun tekanan inflasi global sempat meningkat. Kehadiran mahasiswa baru setiap tahun juga menjaga stabilitas permintaan lokal, menjadikan sektor pendidikan sebagai penopang ekonomi yang berkelanjutan.
Peran Industri Kreatif dan UMKM
Yogyakarta juga dikenal sebagai salah satu pusat industri kreatif dan UMKM terbesar di Indonesia. Banyak pelaku usaha kecil yang bergerak di bidang batik, kerajinan, kuliner, hingga produk digital. BI mencatat, ekspor produk kreatif asal DIY terus meningkat, terutama ke pasar Asia Tenggara dan Eropa.
Dukungan pemerintah daerah terhadap pelaku UMKM dilakukan melalui program pembiayaan inklusif dan pelatihan digital marketing. “Kami membantu UMKM agar bisa beradaptasi dengan pasar digital dan meningkatkan daya saing produknya,” jelas Sri Darmadi.
Selain itu, inisiatif seperti Digitalisasi Pasar Rakyat dan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di berbagai lokasi usaha turut memperkuat sistem transaksi non-tunai di wilayah tersebut. Langkah ini tidak hanya meningkatkan efisiensi ekonomi, tetapi juga memperluas akses finansial bagi masyarakat kecil.
Tantangan: Infrastruktur dan Ketimpangan Wilayah
Di balik capaian positif, BI juga mengingatkan adanya sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah ketimpangan ekonomi antarwilayah di dalam DIY. Pertumbuhan ekonomi cenderung terkonsentrasi di Kota Yogyakarta dan Sleman, sementara daerah seperti Kulon Progo dan Gunungkidul masih tertinggal dalam hal infrastruktur dan investasi.
Selain itu, peningkatan arus wisatawan juga menimbulkan tekanan terhadap kapasitas transportasi dan lingkungan. Jika tidak diimbangi dengan pengelolaan berkelanjutan, potensi pariwisata justru bisa menimbulkan masalah sosial dan ekologis di masa depan.
Langkah Strategis Pemerintah dan BI
Untuk menjaga momentum pertumbuhan, Pemerintah Daerah DIY bersama Bank Indonesia menyiapkan beberapa strategi. Fokus utama diarahkan pada penguatan ekonomi hijau dan pariwisata berkelanjutan, peningkatan konektivitas transportasi, serta digitalisasi sektor UMKM.
Program unggulan lain yang tengah dikembangkan adalah pembentukan kawasan ekonomi kreatif terintegrasi yang melibatkan perguruan tinggi, pelaku usaha, dan pemerintah. Kawasan ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi antara inovasi dan industri lokal.
Selain itu, BI DIY juga memperkuat sinergi dengan perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit produktif. Dukungan pembiayaan kepada sektor pertanian, perikanan, dan ekonomi kreatif diyakini dapat mendorong pertumbuhan yang lebih merata.
Harapan dan Prospek ke Depan
Secara keseluruhan, prospek ekonomi DIY ke depan dinilai sangat menjanjikan. Dengan kombinasi antara kekuatan sektor pariwisata, pendidikan, dan ekonomi kreatif, Yogyakarta memiliki fondasi ekonomi yang tangguh dan berkarakter lokal kuat.
Apabila program pembangunan infrastruktur berjalan sesuai rencana, serta distribusi ekonomi diperluas hingga ke daerah pinggiran, maka DIY berpeluang mempertahankan posisinya sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Pulau Jawa.
Kepala BI DIY menegaskan, “Pertumbuhan ekonomi yang baik harus inklusif, artinya mampu dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Bukan hanya angka yang naik, tetapi kesejahteraan yang meningkat.”
Dengan komitmen tersebut, Yogyakarta terus membuktikan diri sebagai contoh nyata bahwa ekonomi berbasis budaya, pendidikan, dan inovasi dapat menjadi motor penggerak pembangunan daerah yang berkelanjutan.

Cek Juga Artikel Dari Platform radarbandung.web.id
