Rura Basa, Kesalahan Bahasa Jawa yang Dianggap Lumrah
radarjawa.web.id Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah dengan penutur terbanyak di Indonesia. Kekayaan kosakata, tingkatan tutur, serta nilai budaya yang terkandung di dalamnya menjadikan Bahasa Jawa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga warisan budaya yang hidup. Namun, di tengah dinamika penggunaan sehari-hari, muncul fenomena yang kerap luput dari perhatian, yaitu rura basa.
Rura basa merujuk pada penggunaan bahasa yang keliru atau tidak tepat, tetapi sudah dianggap wajar oleh masyarakat. Kesalahan ini sering terjadi secara berulang hingga akhirnya diterima sebagai kebiasaan. Tanpa disadari, rura basa dapat menggeser makna asli kata dan mengaburkan kaidah Bahasa Jawa yang benar.
Makna Rura Basa dalam Bahasa Jawa
Secara harfiah, kata rura atau rurah berarti rusak. Sementara basa berarti bahasa. Dengan demikian, rura basa dapat dimaknai sebagai bahasa yang “rusak” atau menyimpang dari kaidah yang seharusnya. Kerusakan ini bukan dalam arti fisik, melainkan kerusakan makna dan struktur bahasa.
Fenomena rura basa tidak selalu muncul karena ketidaktahuan. Dalam banyak kasus, penutur sebenarnya memahami maksud yang ingin disampaikan. Namun, karena bentuk ungkapan yang salah sudah terlanjur populer, kesalahan tersebut terus digunakan dan diwariskan dalam percakapan sehari-hari.
Pengulangan Makna yang Tidak Disadari
Salah satu bentuk rura basa yang paling sering dijumpai adalah pengulangan makna dalam satu frasa. Kesalahan ini terlihat sepele, tetapi sebenarnya menunjukkan ketidaktepatan dalam penggunaan kosakata.
Ketua DPW Persatuan Pambiwara Indonesia sekaligus PEPARI Jawa Timur, Rahmad Budi Utomo, menjelaskan bahwa rura basa sering terjadi karena penutur tidak menyadari makna kata yang digunakan. Contohnya adalah ungkapan nggodhog wedang. Secara harfiah, frasa ini berarti merebus air panas, padahal kata wedang sendiri sudah bermakna air panas.
Ungkapan yang lebih tepat dalam Bahasa Jawa adalah nggodhog banyu atau merebus air. Kesalahan semacam ini sering dianggap remeh, tetapi jika dibiarkan, dapat mengaburkan pemahaman makna kata bagi generasi berikutnya.
Mengapa Rura Basa Dianggap Biasa
Ada beberapa faktor yang membuat rura basa dianggap lumrah. Pertama, faktor kebiasaan. Ketika sebuah ungkapan salah digunakan secara luas dan terus-menerus, masyarakat cenderung menganggapnya benar. Lama-kelamaan, bentuk yang salah justru terdengar lebih akrab dibandingkan bentuk yang tepat.
Kedua, pengaruh bahasa lain. Bahasa Jawa hidup berdampingan dengan Bahasa Indonesia dan bahasa daerah lain. Interaksi ini memengaruhi struktur dan kosakata. Dalam prosesnya, terjadi pergeseran makna atau pencampuran yang tidak selalu sesuai kaidah Bahasa Jawa.
Ketiga, minimnya pembelajaran bahasa secara mendalam. Banyak penutur Bahasa Jawa menggunakan bahasa ini secara alami dalam keluarga atau lingkungan, tanpa pernah mempelajari tata bahasa dan makna kata secara formal. Akibatnya, kesalahan kecil tidak terdeteksi.
Dampak Rura Basa terhadap Bahasa Jawa
Rura basa bukan sekadar persoalan teknis bahasa. Jika terus dibiarkan, fenomena ini dapat berdampak pada pelestarian Bahasa Jawa itu sendiri. Kesalahan yang dianggap wajar dapat mengubah standar penggunaan bahasa, bahkan berpotensi menghilangkan makna asli kata.
Selain itu, rura basa juga dapat memengaruhi kualitas komunikasi. Pengulangan makna yang tidak perlu membuat bahasa menjadi tidak efektif. Dalam konteks tertentu, kesalahan ini bahkan bisa menimbulkan kebingungan, terutama bagi penutur baru atau generasi muda yang sedang belajar Bahasa Jawa.
Pentingnya Meluruskan Penggunaan Bahasa
Meluruskan rura basa bukan berarti menyalahkan penutur. Upaya ini lebih bertujuan untuk mengedukasi dan meningkatkan kesadaran berbahasa. Bahasa yang digunakan dengan tepat mencerminkan pemahaman budaya dan penghargaan terhadap warisan leluhur.
Tokoh-tokoh budaya dan organisasi kebahasaan memiliki peran penting dalam proses ini. Melalui diskusi, sosialisasi, dan edukasi, masyarakat dapat diajak memahami bentuk penggunaan bahasa yang lebih tepat tanpa merasa digurui.
Peran Lembaga dan Komunitas Budaya
Organisasi seperti Persatuan Pambiwara Indonesia dan PEPARI memiliki kontribusi besar dalam menjaga marwah Bahasa Jawa. Pambiwara atau pembawa acara adat dituntut menggunakan bahasa yang baik dan benar, karena mereka menjadi contoh langsung di tengah masyarakat.
Melalui pelatihan dan forum kebahasaan, kesalahan-kesalahan umum dapat dibahas dan diluruskan. Pendekatan ini dinilai efektif karena menyentuh langsung praktik penggunaan bahasa di ruang publik.
Bahasa Jawa sebagai Identitas Budaya
Bahasa Jawa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga identitas budaya. Di dalamnya terkandung nilai kesantunan, hierarki sosial, dan filosofi hidup. Ketepatan berbahasa mencerminkan sikap hormat terhadap nilai-nilai tersebut.
Ketika rura basa dibiarkan, bukan hanya struktur bahasa yang terganggu, tetapi juga nilai budaya yang menyertainya. Oleh karena itu, upaya meluruskan penggunaan Bahasa Jawa menjadi bagian dari pelestarian budaya secara keseluruhan.
Edukasi Sejak Dini
Salah satu cara efektif mencegah rura basa adalah melalui edukasi sejak dini. Pengenalan makna kata dan struktur bahasa yang tepat dapat dilakukan di lingkungan keluarga maupun pendidikan formal. Dengan pemahaman yang baik, generasi muda dapat menggunakan Bahasa Jawa secara lebih sadar dan bertanggung jawab.
Media juga memiliki peran penting. Konten berbahasa Jawa yang berkualitas dan sesuai kaidah dapat menjadi referensi positif bagi masyarakat luas.
Kesimpulan
Rura basa adalah fenomena kesalahan Bahasa Jawa yang sering dianggap biasa karena sudah terlanjur menjadi kebiasaan. Meski terlihat sepele, kesalahan ini dapat berdampak pada kelestarian dan ketepatan bahasa. Pengulangan makna, seperti pada ungkapan tertentu, menunjukkan pentingnya pemahaman kosakata secara utuh.
Meluruskan rura basa bukan upaya menghakimi, melainkan bentuk kepedulian terhadap Bahasa Jawa sebagai warisan budaya. Dengan kesadaran bersama, edukasi berkelanjutan, dan peran aktif lembaga budaya, Bahasa Jawa dapat terus digunakan secara tepat, hidup, dan bermartabat di tengah perubahan zaman.

Cek Juga Artikel Dari Platform kabarsantai.web.id
