Mengapa Operasi Cuaca Digelar di Selatan Jawa untuk Lindungi Jakarta?
radarjawa.web.id Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama BMKG dan TNI Angkatan Udara (TNI AU) melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah perairan selatan hingga barat Banten.
Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi cuaca ekstrem yang dapat menimbulkan hujan lebat di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Operasi tersebut dilakukan dengan cara penyemaian awan di area udara sekitar Ujung Kulon hingga selatan Sukabumi. Tujuannya adalah mempercepat proses hujan agar terjadi di laut atau di kawasan hulu sebelum awan tebal bergerak ke arah Jakarta.
Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji, menyebut tim gabungan telah menaburkan sekitar 2,4 ton natrium klorida (NaCl) di langit selatan Jawa dalam beberapa kali penerbangan. “Penyemaian dilakukan di wilayah udara yang berpotensi menimbulkan awan hujan tebal menuju Jabodetabek,” ujarnya.
Bagaimana Operasi Modifikasi Cuaca Bekerja?
Operasi modifikasi cuaca adalah teknik ilmiah yang bertujuan mengendalikan pembentukan hujan. Cara ini dilakukan dengan menaburkan zat kimia, seperti garam NaCl, ke awan jenis tertentu agar butiran air cepat bergabung dan jatuh sebagai hujan.
Menurut penjelasan dari ahli meteorologi BMKG, modifikasi cuaca dilakukan untuk mengarahkan curah hujan ke lokasi yang lebih aman. Dalam kasus ini, awan yang berpotensi menurunkan hujan deras di Jakarta dialihkan agar menumpahkan airnya di wilayah selatan Jawa atau di laut terbuka.
“Teknik ini membantu mengurangi risiko banjir. Awan yang seharusnya masuk ke Jabodetabek dibuat hujan lebih dulu di daerah lain,” ujar pejabat BMKG.
Mengapa Dipusatkan di Selatan Jawa?
Wilayah selatan Jawa dipilih karena menjadi jalur utama pembentukan awan hujan yang menuju Jakarta. Arus angin dari Samudra Hindia sering membawa uap air dalam jumlah besar ke arah utara Pulau Jawa.
Daerah seperti Sukabumi, Pandeglang, hingga Ujung Kulon merupakan zona konvergensi awan, tempat awan-awan besar mulai terbentuk sebelum akhirnya bergerak ke Jabodetabek. Dengan melakukan penyemaian di area itu, hujan bisa terjadi lebih cepat sehingga beban curah hujan yang masuk ke Jakarta berkurang drastis.
Langkah ini dianggap strategis karena Jakarta memiliki topografi datar dan sistem drainase yang masih terbatas. Setiap kali terjadi hujan ekstrem, air sulit terserap dan cepat menyebabkan genangan atau banjir.
Peran TNI AU dalam Operasi Cuaca
TNI AU menjadi salah satu elemen penting dalam pelaksanaan operasi ini. Mereka menyediakan pesawat khusus untuk mengangkut bahan penyemaian dan menjangkau awan di ketinggian tertentu.
Dalam misi terakhir, tim melakukan tiga kali penerbangan sehari. Setiap penerbangan membawa ratusan kilogram garam yang disebarkan di awan berpotensi hujan. Pilot dan teknisi bekerja sama dengan ahli meteorologi untuk menentukan lokasi dan waktu terbaik penyemaian.
Koordinasi dilakukan dengan Pusat Meteorologi Penerbangan BMKG guna memastikan keselamatan penerbangan serta efektivitas operasi. “Semua proses diawasi secara ilmiah, termasuk pemetaan awan dan arah angin,” ungkap Isnawa.
Upaya Pencegahan Sebelum Musim Hujan Puncak
Jakarta kerap menghadapi tantangan besar menjelang puncak musim hujan. Curah hujan tinggi sering kali menyebabkan genangan di beberapa wilayah seperti Kebon Jeruk, Cawang, dan Kampung Melayu. Karena itu, operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu langkah mitigasi penting.
BPBD DKI Jakarta mengungkapkan bahwa operasi ini bukan hanya reaktif, tapi juga preventif. Tujuannya adalah mengurangi potensi risiko banjir sejak dini. “Kalau curah hujan ekstrem bisa dikurangi di hulu, maka debit air yang masuk ke Jakarta juga berkurang,” jelas Isnawa.
Selain penyemaian awan, pemerintah juga memperkuat sistem pompa, menambah kolam retensi, dan membersihkan saluran air. Semua langkah ini dijalankan bersamaan agar pengendalian banjir lebih efektif.
Efektivitas Operasi dan Tantangannya
Menurut BMKG, operasi modifikasi cuaca bukan hal baru di Indonesia. Cara ini sudah digunakan sejak awal 2000-an dan terbukti membantu mengurangi risiko bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah.
Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada kondisi atmosfer. Jika angin terlalu kuat atau kelembapan udara rendah, penyemaian tidak menghasilkan hujan sesuai rencana.
“OMC bukan alat ajaib. Ia bekerja optimal bila kondisi atmosfer mendukung,” kata salah satu peneliti atmosfer dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Meskipun demikian, pemerintah menilai upaya ini tetap diperlukan. Setiap hujan besar yang berhasil dialihkan di laut berarti potensi genangan di Jakarta bisa dikurangi.
Dampak Jangka Panjang bagi Wilayah Sekitar
Selain Jakarta, operasi ini juga berdampak pada wilayah sekitar seperti Banten dan Sukabumi. Hujan yang dipicu di wilayah selatan membantu mengisi waduk, sungai, dan sumber air pertanian.
Bagi masyarakat di pesisir selatan, curah hujan tambahan justru bermanfaat bagi sistem irigasi.
Namun, BMKG memastikan penyemaian awan dilakukan dengan perhitungan matang agar tidak menimbulkan kelebihan air di daerah lain. “Kami menjaga keseimbangan. Tujuan utama adalah mitigasi, bukan memindahkan risiko,” jelas perwakilan BMKG.
Kolaborasi Ilmiah untuk Jakarta yang Tangguh Bencana
Operasi modifikasi cuaca menjadi contoh konkret sinergi antar lembaga negara dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Kolaborasi antara BPBD, BMKG, dan TNI AU menunjukkan bahwa pengendalian risiko bencana memerlukan dukungan lintas sektor.
Selain teknologi penyemaian awan, pemerintah juga tengah menyiapkan sistem Early Warning System untuk hujan ekstrem dan banjir bandang. Sistem ini diintegrasikan dengan data satelit dan radar cuaca.
Dengan kombinasi teknologi dan kerja sama yang solid, Jakarta diharapkan dapat lebih tangguh menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi di masa depan.
Kesimpulan: Langit Selatan Demi Jakarta Aman
Operasi modifikasi cuaca di selatan Jawa menjadi langkah strategis untuk menjaga kestabilan iklim mikro Jakarta.
Dengan mengalihkan hujan ekstrem ke wilayah laut, beban air yang masuk ke ibu kota dapat ditekan tanpa mengganggu keseimbangan alam.
Melalui pendekatan ilmiah dan kolaborasi antarlembaga, pemerintah menunjukkan bahwa pencegahan bencana tidak hanya tentang reaksi cepat, tetapi juga tentang strategi cerdas mengelola cuaca sebelum bahaya datang.
Langit selatan pun kini menjadi perisai alami bagi Jakarta — melindungi kota dari potensi banjir dan menjaga keseimbangan iklim di Pulau Jawa.

Cek Juga Artikel Dari Platform podiumnews.online
