Lahan Kritis Jateng Masih Luas, Alih Fungsi Jadi Ancaman
radarjawa.web.id Kondisi lingkungan di Jawa Tengah masih menghadapi tantangan besar terkait keberadaan lahan kritis. Meski menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir, luas lahan kritis di provinsi ini masih berada pada angka ratusan ribu hektare. Fakta ini menandakan bahwa tekanan terhadap lingkungan belum sepenuhnya teratasi.
Lahan kritis menjadi indikator penting kualitas lingkungan hidup. Ketika luasnya masih besar, risiko bencana ekologis seperti banjir, longsor, dan penurunan kesuburan tanah ikut meningkat. Oleh karena itu, isu ini terus menjadi perhatian pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lingkungan.
Penurunan Luas Lahan Kritis Patut Dicatat
Data terbaru menunjukkan adanya penurunan luas lahan kritis dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Penurunan ini dinilai sebagai hasil dari berbagai program rehabilitasi dan pengelolaan lingkungan yang dilakukan secara bertahap. Meski demikian, capaian tersebut belum bisa membuat upaya pelestarian lingkungan berhenti.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, Widi Hartanto, menjelaskan bahwa lahan kritis masih tersebar di berbagai wilayah. Penurunan luas lahan kritis menunjukkan adanya kemajuan, namun angka yang tersisa tetap tergolong besar dan membutuhkan perhatian serius.
Definisi dan Karakteristik Lahan Kritis
Lahan kritis merupakan lahan yang mengalami kerusakan secara fisik, kimia, maupun biologis. Kerusakan ini membuat lahan kehilangan fungsi alaminya, baik sebagai penyangga ekosistem maupun sebagai lahan produktif. Tanah menjadi tidak subur, struktur tanah rusak, dan daya dukung lingkungan menurun.
Dalam kondisi tertentu, lahan kritis sulit untuk kembali produktif tanpa intervensi manusia. Rehabilitasi membutuhkan waktu, biaya, dan perencanaan yang matang agar fungsi ekologisnya dapat pulih secara bertahap.
Alih Fungsi Lahan sebagai Faktor Dominan
Salah satu penyebab utama meluasnya lahan kritis adalah alih fungsi lahan. Perubahan lahan hutan atau pertanian menjadi kawasan permukiman, industri, dan infrastruktur sering dilakukan tanpa perencanaan ekologis yang memadai. Akibatnya, keseimbangan lingkungan terganggu.
Alih fungsi lahan yang tidak terkendali mempercepat degradasi tanah. Tutupan vegetasi berkurang, daya serap air menurun, dan erosi meningkat. Dalam jangka panjang, kondisi ini memperbesar risiko bencana dan merugikan masyarakat sekitar.
Penebangan Liar Masih Mengancam
Selain alih fungsi lahan, penebangan liar juga menjadi faktor signifikan penyebab lahan kritis. Praktik ini menghilangkan tutupan hutan yang berperan penting menjaga stabilitas tanah dan siklus air. Tanpa pohon, tanah menjadi rentan terhadap erosi dan longsor.
Penebangan liar tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga mengganggu kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Hutan yang rusak mengurangi sumber air bersih dan hasil hutan non-kayu yang selama ini dimanfaatkan warga.
Dampak Lingkungan dan Sosial
Keberadaan lahan kritis berdampak langsung pada lingkungan dan kehidupan masyarakat. Secara ekologis, lahan kritis menurunkan kualitas lingkungan dan keanekaragaman hayati. Banyak spesies tumbuhan dan satwa kehilangan habitatnya akibat kerusakan lahan.
Dari sisi sosial, masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam merasakan dampaknya. Produktivitas pertanian menurun, sumber air berkurang, dan risiko bencana meningkat. Kondisi ini dapat memicu masalah ekonomi dan sosial jika tidak ditangani secara komprehensif.
Upaya Rehabilitasi dan Pengelolaan
Pemerintah daerah bersama berbagai pihak terus melakukan upaya rehabilitasi lahan kritis. Program penanaman kembali, konservasi tanah dan air, serta pengelolaan hutan berkelanjutan menjadi bagian dari strategi pemulihan.
Rehabilitasi tidak hanya berfokus pada penanaman pohon, tetapi juga pada penguatan fungsi ekosistem. Pendekatan ini menekankan pentingnya jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi lokal agar hasilnya berkelanjutan.
Peran Masyarakat dan Pengawasan
Keberhasilan pemulihan lahan kritis sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat. Warga lokal memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan di sekitarnya. Edukasi dan pemberdayaan masyarakat menjadi kunci agar upaya rehabilitasi tidak bersifat sementara.
Pengawasan terhadap alih fungsi lahan dan penebangan liar juga perlu diperkuat. Penegakan aturan lingkungan harus berjalan seiring dengan pembangunan agar keseimbangan antara ekonomi dan ekologi dapat terjaga.
Tantangan di Masa Mendatang
Meski luas lahan kritis menurun, tantangan ke depan tetap besar. Pertumbuhan penduduk dan kebutuhan pembangunan berpotensi meningkatkan tekanan terhadap lahan. Tanpa kebijakan yang tegas dan konsisten, lahan kritis bisa kembali meluas.
Oleh karena itu, perencanaan tata ruang yang berwawasan lingkungan menjadi sangat penting. Setiap kebijakan pembangunan perlu mempertimbangkan daya dukung lingkungan agar tidak menimbulkan kerusakan jangka panjang.
Menuju Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan
Isu lahan kritis di Jawa Tengah menjadi pengingat bahwa pembangunan dan pelestarian lingkungan harus berjalan seimbang. Penurunan luas lahan kritis menunjukkan bahwa upaya rehabilitasi dapat membuahkan hasil jika dilakukan secara konsisten.
Namun, angka yang masih besar menegaskan bahwa pekerjaan belum selesai. Diperlukan komitmen berkelanjutan dari pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha untuk menjaga lingkungan tetap lestari. Dengan pengelolaan yang tepat, lahan kritis dapat dipulihkan dan kembali berfungsi sebagai penopang kehidupan serta pembangunan berkelanjutan di Jawa Tengah.

Cek Juga Artikel Dari Platform infowarkop.web.id
