Indo Gaya Nusantara Ubah Pembelian Produk Jadi Aksi Mangrove
radarjawa.web.id Kesadaran terhadap isu lingkungan kini semakin memengaruhi cara perusahaan menjalankan bisnis. Banyak brand tidak lagi hanya fokus pada penjualan, tetapi juga mulai mengintegrasikan aktivitas usaha dengan kontribusi nyata bagi alam dan masyarakat.
Salah satu contoh datang dari perusahaan garmen PT Indo Gaya Nusantara. Perusahaan ini menginisiasi program sosial-lingkungan bertajuk “Rindu Rindang”, sebuah mekanisme yang mengonversi setiap transaksi pembelian produk menjadi aksi restorasi pesisir melalui penanaman mangrove.
Langkah ini menjadi pendekatan menarik karena menghubungkan keputusan konsumen dalam membeli produk dengan dampak ekologis yang bisa dirasakan secara langsung.
Program “Rindu Rindang” dan Konsep Konversi Transaksi
Dalam program ini, setiap produk yang dibeli konsumen secara otomatis dikonversi menjadi satu bibit bakau atau mangrove. Bibit tersebut kemudian ditanam di kawasan pesisir yang membutuhkan pemulihan ekosistem.
Founder LETTI, salah satu jenama apparel di bawah Indo Gaya Nusantara, Beny Kurniawan, menjelaskan bahwa perusahaan ingin memastikan kontribusi konsumen benar-benar terwujud sebagai aksi nyata.
Menurutnya, konsep ini tidak hanya berhenti pada kampanye atau promosi, tetapi diterjemahkan menjadi kegiatan fisik di lapangan.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap dukungan dari konsumen benar-benar terkonversi menjadi aksi nyata yang berdampak pada pemulihan lahan secara fisik,” ujar Beny.
Dengan sistem otomatis tersebut, konsumen tidak hanya membeli pakaian, tetapi juga ikut berpartisipasi dalam gerakan restorasi alam.
Mangrove sebagai Solusi untuk Abrasi dan Kerusakan Pesisir
Mangrove atau bakau memiliki peran sangat penting dalam menjaga ekosistem pesisir. Pohon ini dikenal sebagai pelindung alami garis pantai dari abrasi, gelombang besar, dan dampak perubahan iklim.
Di wilayah pesisir Pulau Jawa, abrasi dan degradasi lingkungan menjadi tantangan besar. Banyak kawasan mengalami penyusutan garis pantai akibat rusaknya vegetasi alami dan tekanan aktivitas manusia.
Penanaman mangrove menjadi salah satu cara paling efektif untuk memperkuat “sabuk hijau” pesisir. Selain menahan abrasi, mangrove juga menjadi habitat bagi berbagai biota laut dan membantu menjaga kualitas air.
Karena itu, program seperti “Rindu Rindang” dinilai relevan dengan kebutuhan restorasi ekosistem saat ini.
Keterlibatan Langsung Manajemen di Lokasi Penanaman
Hal menarik dari inisiatif ini adalah keterlibatan langsung perusahaan dalam kegiatan penanaman. Beny Kurniawan menyebut bahwa manajemen memilih turun langsung ke lokasi agar prosesnya transparan dan benar-benar berjalan sesuai tujuan.
Dengan hadir di lapangan, perusahaan ingin memastikan bahwa kontribusi konsumen tidak hanya tercatat sebagai angka, tetapi diwujudkan menjadi bibit yang benar-benar ditanam.
Langkah ini juga memperkuat kepercayaan publik bahwa program CSR tidak sekadar formalitas, melainkan gerakan yang memiliki dampak nyata.
Konsumen Jadi Penggerak Utama Restorasi
Dalam program ini, konsumen memegang peran penting. Setiap keputusan membeli produk selama periode program dianggap sebagai bentuk partisipasi dalam pemulihan lingkungan.
Beny menegaskan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada dukungan masyarakat.
“Konsumen memiliki peran paling krusial dalam keberhasilan program ini,” ucapnya.
Model seperti ini menunjukkan bahwa konsumen modern bukan hanya pembeli, tetapi juga bisa menjadi bagian dari gerakan sosial dan lingkungan melalui pilihan sehari-hari.
Ketika bisnis dan konsumen berjalan bersama, dampak yang dihasilkan bisa lebih luas.
Kolaborasi dengan Mitra Lingkungan
Program restorasi pesisir ini juga dijalankan bersama Lindungi Hutan sebagai mitra pelaksana. Kolaborasi dengan organisasi lingkungan menjadi faktor penting agar penanaman dilakukan secara tepat dan berkelanjutan.
Mitra pelaksana biasanya memiliki pengalaman dalam menentukan lokasi konservasi, metode penanaman yang benar, serta pendampingan masyarakat sekitar.
Dengan kerja sama ini, penanaman bibit mangrove tidak hanya menjadi kegiatan simbolis, tetapi bagian dari strategi pemulihan ekosistem jangka panjang.
Manfaat Jangka Panjang untuk Lingkungan dan Masyarakat
Indo Gaya Nusantara berharap penanaman bibit bakau dapat memberikan manfaat ekologis yang berkelanjutan. Mangrove yang tumbuh akan memperkuat kawasan konservasi, memperbaiki kualitas lingkungan, serta melindungi masyarakat pesisir dari ancaman abrasi.
Selain manfaat lingkungan, program ini juga memiliki dampak sosial. Restorasi pesisir dapat membantu menjaga sumber daya alam yang menjadi tumpuan hidup masyarakat sekitar, seperti perikanan dan ekowisata.
Dengan demikian, program ini tidak hanya menyasar alam, tetapi juga kesejahteraan komunitas pesisir.
Bisnis Berkelanjutan sebagai Tren Masa Depan
Inisiatif seperti “Rindu Rindang” mencerminkan tren baru dalam dunia bisnis: keberlanjutan. Perusahaan kini semakin dituntut untuk tidak hanya mengejar profit, tetapi juga memberi kontribusi positif bagi lingkungan.
Menghubungkan pertumbuhan bisnis dengan aksi nyata seperti penanaman mangrove menjadi contoh bagaimana industri fashion bisa ikut berperan dalam isu perubahan iklim dan konservasi.
Program ini juga menunjukkan bahwa keberlanjutan bisa dimulai dari langkah sederhana, seperti satu produk dibeli, satu bibit ditanam.
Kesimpulan: Transaksi yang Berdampak untuk Alam
PT Indo Gaya Nusantara melalui program “Rindu Rindang” berhasil menghadirkan model bisnis yang terhubung langsung dengan aksi restorasi lingkungan.
Dengan mengonversi setiap pembelian produk menjadi bibit mangrove, perusahaan mengajak konsumen ikut berpartisipasi dalam pemulihan pesisir Pulau Jawa.
Inisiatif ini menjadi bukti bahwa bisnis dan lingkungan dapat berjalan seiring. Ketika konsumen, perusahaan, dan mitra konservasi bersatu, dampak positif bagi alam dan masyarakat bisa tercipta dalam jangka panjang.

Cek Juga Artikel Dari Platform iklanjualbeli.info
