Demo Buruh Ricuh di Bandung Tolak SE UMSK 2026
Aksi Buruh Ricuh di Depan Gedung Sate
Aksi demonstrasi ratusan buruh dari berbagai organisasi di depan Gedung Sate, Bandung, berlangsung ricuh. Massa buruh yang menggelar aksi protes meluapkan kekecewaan mereka terhadap kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait penetapan Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK) 2026.
Ketegangan memuncak ketika sebagian peserta aksi membakar ban bekas di tengah jalan dan berupaya mendobrak gerbang utama kantor gubernur. Asap hitam membumbung tinggi, sementara aparat kepolisian bersiaga penuh untuk mengantisipasi situasi agar tidak semakin memburuk.
Penolakan terhadap Surat Edaran Gubernur
Aksi demonstrasi tersebut dipicu oleh terbitnya Surat Edaran Gubernur Jawa Barat mengenai UMSK 2026. Massa buruh menilai kebijakan tersebut tidak berpihak pada kepentingan pekerja, khususnya buruh di sektor unggulan industri.
Menurut para demonstran, angka UMSK yang tertuang dalam surat edaran dinilai lebih rendah dari rekomendasi yang sebelumnya telah disepakati dalam pembahasan di tingkat kabupaten dan kota. Hal ini dianggap sebagai bentuk pengabaian terhadap proses dialog yang telah dilakukan antara buruh, pengusaha, dan pemerintah daerah.
Massa Berupaya Terobos Area Kantor Gubernur
Ketegangan semakin meningkat ketika sejumlah peserta aksi mencoba merangsek masuk ke area Gedung Sate. Massa menggoyang-goyangkan pagar besi hingga nyaris roboh, memicu respons cepat dari aparat keamanan.
Petugas kepolisian membentuk barikade berlapis untuk mencegah massa memasuki kawasan yang dikategorikan sebagai objek vital pemerintahan. Dorong-dorongan antara aparat dan demonstran pun tak terhindarkan, meski polisi berupaya menahan diri agar situasi tidak berubah menjadi bentrokan terbuka.
Orator Soroti Kerugian Buruh Sektoral
Dari atas mobil komando, sejumlah orator menyampaikan orasi keras menentang kebijakan UMSK 2026. Mereka menilai keputusan tersebut berpotensi menurunkan kesejahteraan buruh di sektor-sektor tertentu yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian daerah.
Salah satu orator menegaskan bahwa penetapan UMSK seharusnya mempertimbangkan karakteristik sektor industri dan kondisi riil di lapangan. Menurutnya, penyamaan atau penurunan nilai sektoral justru memperlemah daya beli buruh dan bertentangan dengan semangat perlindungan tenaga kerja.
Aparat Kepolisian Lakukan Pengamanan Ketat
Aparat kepolisian dari Polda Jawa Barat diterjunkan dalam jumlah besar untuk mengamankan jalannya aksi. Pengamanan dilakukan secara ketat mengingat lokasi aksi berada di pusat pemerintahan provinsi.
Petugas tampak mengenakan perlengkapan pengendalian massa dan terus berkoordinasi untuk menjaga situasi tetap terkendali. Polisi berulang kali mengimbau massa agar menyampaikan aspirasi secara tertib dan tidak melakukan tindakan anarkis.
Lalu Lintas Sekitar Lokasi Terganggu
Aksi pembakaran ban dan konsentrasi massa menyebabkan arus lalu lintas di sekitar Gedung Sate terganggu. Sejumlah ruas jalan ditutup sementara untuk mencegah risiko keselamatan pengguna jalan.
Pengalihan arus dilakukan oleh petugas untuk mengurangi kemacetan. Namun, kepadatan kendaraan tetap tidak terhindarkan, terutama pada jam-jam sibuk menjelang sore hari.
UMSK Jadi Isu Sensitif Tahunan
Isu upah minimum sektoral kembali menjadi sorotan menjelang pergantian tahun. Setiap tahunnya, penetapan UMSK kerap memicu perdebatan antara buruh, pengusaha, dan pemerintah.
Bagi buruh, UMSK dinilai sebagai instrumen penting untuk menjamin kesejahteraan pekerja di sektor-sektor dengan tingkat keuntungan tinggi. Sementara itu, pemerintah dan pengusaha sering kali menimbang faktor keberlanjutan usaha dan iklim investasi.
Tuntutan Buruh: Revisi dan Dialog Ulang
Dalam aksi tersebut, massa buruh mendesak agar Surat Edaran Gubernur Jawa Barat tentang UMSK 2026 dicabut atau direvisi. Mereka juga menuntut dibukanya kembali ruang dialog yang melibatkan perwakilan buruh secara substantif.
Buruh berharap pemerintah provinsi tidak mengambil keputusan sepihak dan menghormati hasil kesepakatan yang telah dibangun di tingkat daerah. Menurut mereka, dialog yang adil menjadi kunci terciptanya kebijakan pengupahan yang berkeadilan.
Situasi Berangsur Kondusif
Menjelang sore, situasi di depan Gedung Sate mulai berangsur kondusif. Aparat kepolisian berhasil mendorong massa menjauh dari gerbang utama dan memadamkan sisa pembakaran ban.
Meski demikian, sebagian buruh masih bertahan di sekitar lokasi sambil menyuarakan tuntutan mereka. Polisi tetap berjaga untuk memastikan aksi tidak kembali memanas.
Isu UMSK Berpotensi Meluas
Aksi di Bandung diperkirakan bukan yang terakhir. Sejumlah serikat buruh mengisyaratkan kemungkinan aksi lanjutan di berbagai daerah di Jawa Barat jika tuntutan mereka tidak direspons.
Isu UMSK 2026 berpotensi menjadi konflik industrial yang lebih luas apabila tidak segera dicarikan solusi. Pemerintah daerah diharapkan mampu meredam ketegangan dengan pendekatan dialog dan kebijakan yang berpihak pada keadilan sosial.
Baca Juga : Jadwal SIM Keliling Bandung Hari Ini 30 Desember
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : jelajahhijau

